Mungkin tempat ini sudah tidak asing lagi baginya. Karena setiap hari ia selalu menyambangi tempat tersebut untuk menuntut ilmu. Aneh, ilmu tidak bersalah tetapi dituntut olehnya.
Matahari menjulang tinggi setinggi tingginya. Berada di tempat ia berada. Sang surya itu sudah bangun dari tempat persembunyiannya.
Tetapi tampak berbeda dengan lelaki botak ini. Tidak seperti biasanya ia tidur hingga siang seperti ini. Pantas saja, badannya sedang tidak enak. Tidak seperti biasanya yang selalu bangun jam 3 untuk bersiap ke sekolah. Sangat pagi. Dikarenakan jarak antara rumah dan sekolah berjauhan. Seperti hubungan long distance relationship saja.
Sesaaat, seorang berdiri di depan pintu kamarnya. Mengetuk pintu 3 kali. Dan bertanya pada lelaki berkepala botak yang masih saja berbaring di tempat tidurnya. Ya, itu ayahnya, yang mencoba membangunkan anak sulungnya itu. “ nak, kamu ikut ayah ambil rapor kamu tidak? ” Manusia di dalam kamar itu tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Ayahnya seketika langsung memasuki kamarnya dan mengusap kepala anak sulungnya itu. “ Kok badan kamu panas nak? Ya sudah kamu di rumah aja istirahat ya, ayah mau ambil rapor kamu di sekolah ” ucapnya.
Ternyata hari itu adalah hari pembagian rapor hasil belajar siswa selama satu semester. Dan biasanya, dilanjutkan dengan libur panjang sampai awal tahun.
----
Liburan sudah dimulai semenjak pengambilan laporan belajar waktu itu. Si Botak itu memanfaatkan liburannya untuk mengunjungi kakek dan neneknya di Bandung. Menikmati cuaca dingin yang selalu menyelimuti kota yang disebut sebut sebagai Paris Van Java yang berarti Parisnya Jawa.
Malamnya. Ia mencoba mengelilingi Jl. Asia Afrika melihat sebuah kutipan kalimat oleh PidiBaiq salah seorang penulis novel.
“ Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis. Lebih jauh dari itu, melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi. ” — PidiBaiq
Memang, Bandung tidak hanya indah geografisnya saja. Tetapi Bandung memiliki suasanya yang membuat nyaman perasaan seseorang yang mengunjungi Bumi Pasundan tersebut.
----
Hari - hari setelahnya. Ia memilih menikmati dinginnya cuaca Kota Bandung dengan berduaan saja bersama tempat tidurnya. Disaat sedang enak - enaknya tidur. Wanita berambut pirang panjang menghampiri lelaki botak itu. Berusaha membangunkan sang anak kesayangannya itu yang sedari tadi berbaring di tempat tidurnya.
“ sayang, udah siang. Bangun. Itu di depan ada cuanki lewat. Kamu mau nggak? ”
Mendengar perkataan bundanya. Sekejap langsung beranjak dari tempat tidurnya. Heran, tubuhnya padahal kurus, sering makan, tetap saja tidak membuat badan lelaki botak itu jadi gempal.
----
Cuanki. Makanan khas Bandung, sejenis seperti siaomay. Tetapi kering dan kenyal saat dikunyah. Disajikan dengan kuah. Seperti halnya semangkuk bakso. Yang berisi tahu, bakso urat dan ditambah cuanki itu. Enak. Wajib coba.
----
Sekian. lanjot liburan selanjutnya.
Ternyata hari itu adalah hari pembagian rapor hasil belajar siswa selama satu semester. Dan biasanya, dilanjutkan dengan libur panjang sampai awal tahun.
----
Liburan sudah dimulai semenjak pengambilan laporan belajar waktu itu. Si Botak itu memanfaatkan liburannya untuk mengunjungi kakek dan neneknya di Bandung. Menikmati cuaca dingin yang selalu menyelimuti kota yang disebut sebut sebagai Paris Van Java yang berarti Parisnya Jawa.
Malamnya. Ia mencoba mengelilingi Jl. Asia Afrika melihat sebuah kutipan kalimat oleh PidiBaiq salah seorang penulis novel.
“ Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis. Lebih jauh dari itu, melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi. ” — PidiBaiq
Memang, Bandung tidak hanya indah geografisnya saja. Tetapi Bandung memiliki suasanya yang membuat nyaman perasaan seseorang yang mengunjungi Bumi Pasundan tersebut.
----
Hari - hari setelahnya. Ia memilih menikmati dinginnya cuaca Kota Bandung dengan berduaan saja bersama tempat tidurnya. Disaat sedang enak - enaknya tidur. Wanita berambut pirang panjang menghampiri lelaki botak itu. Berusaha membangunkan sang anak kesayangannya itu yang sedari tadi berbaring di tempat tidurnya.
“ sayang, udah siang. Bangun. Itu di depan ada cuanki lewat. Kamu mau nggak? ”
Mendengar perkataan bundanya. Sekejap langsung beranjak dari tempat tidurnya. Heran, tubuhnya padahal kurus, sering makan, tetap saja tidak membuat badan lelaki botak itu jadi gempal.
----
Cuanki. Makanan khas Bandung, sejenis seperti siaomay. Tetapi kering dan kenyal saat dikunyah. Disajikan dengan kuah. Seperti halnya semangkuk bakso. Yang berisi tahu, bakso urat dan ditambah cuanki itu. Enak. Wajib coba.
----
Sekian. lanjot liburan selanjutnya.


muantepz....
BalasHapusthank you Bu Nova heheheh
Hapus